Untuk Tara #1, Surat Pertama

Surat pertama untukmu, dariku.

Haii! kamu pasti bertanya-tanya mengapa aku tiba-tiba mengirimkan surat kepada mu, menurut praktisku menulis adalah kejujuran yang aku punya setidaknya saat ini. Sekarang umurku tepat 26 tahun tara, dalam situasiku saat ini bahkan untuk jujur pada diri sendiri aku tidak mampu, diujung sana pasti kamu tertawa "kemana Dinda yang berapi-api dulu". Tara, aku ingin berlari kebelakang jauh beberapa tahun silam saat mataku berbinar ketika aku ucapkan keingin ikut demo gejayan memanggil, atau saat mimpiku ingin hidup di selatan bantul bersepeda, membangun cafe kecil penuh sayur dan bunga, memotret senja kesukaan kita hidup magis dengan deburan ombak pantai selatan setiap pagi dan petang, rasanya seperti hidup akan baik-baik saja bukan. Sama denganmu aku juga merindukan Dinda yang naif yang memandang dunia hanya sejengkal dari telapak tangan. 

Apakah kamu menyadari bahwa menusia sejatinya memainkan peran, 365 hari dilewati dengan senyum palsu, tangis yang dibuat-buat, keramahan yang dipaksakan dan hal-hal aneh yang terasa menyatu degan raga yang memberontak mengemis minta istirahat. Tak banyak yang kutau sebelumnya, semakin aku tau semakin aku tidak mengetahuinya, semakin aku memiliki semakin aku hinggap dalam kenyataan hampa bahwa semua yang dimiliki tidak akan tergenggam dengan nyata dan rasa. Tara, ternyata hidup memaksaku untuk menjalani hari seperti robot degan bahan bakar uang bulanan. Hidup semakin monoton dan aku lelah, amat sanggat lelah. Bisakah kau membawaku bermimpi sekali lagi? aku menunggumu kali ini.

Tara, kukirim foto semburat senja yang aku temui sepulang kerja, tidak membara tapi setidaknya dia muncul dengan keindahannya yang sederhana dan juga kirimkan salam ku untuk ibumu sudah lama aku tidak mendegar kabarnya, sampai bertemu di surat berikutnya ya tara, aku rindu.


Comments

Post a Comment

Popular Posts